Wednesday, 22 February 2017

Program Latihan Mingguan Kepramukaan

Berikut contoh Program Latihan Mingguan untuk materi ekstrakulikuler kepramukaan;


PROGRAM LATIHAN MINGGUAN 4

Pengembangan diri    : Kepramukaan sekolah mengah pertama
Kelas                           : VIII
Pertemuan ke                        : 4
Alokasi waktu                        : 2 Jam Pelajaran
Tingkatan                   : Penggalang Rakit
Standar Kompetensi : Mampu menganalisis situasi dan menyikapinya serta mengaplikasikan iptek, dan keterampilan  kepramukaan secara kreatif dan inovatif.
Kompetensi dasar     : dapat menjelaskan perkembangan iptek, dan keterampilan kepramukaan, serta memanfaatkannya.
Indikator                   : -    Dapat mengenal Sandi Morse.
-          Dapat membuat dan menerjemahkan Sandi Morse.
-          Dapat menerima berita dengan menggunakan Sandi Morse.
A.   Tujuan                        : -    Peserta didik dapat mengenali Sandi Morse.
-          Peserta didik dapat membuat dan menerjemahkan Sandi Morse.
-          Peserta didik dapat menerima berita dengan menggunakan Sandi Morse.                                       
B.    Model Pembelajaran : Model Pembelajaran langsung (direct instruction).
C.    Langkah-langkah Kegiatan :
Persiapan
Persiapan Alat Upacara:
-     Bendera Merah putih
-     Bendera Wosm
Bendera Pramuka
5 menit
Pendahuluan
Kegiatan dimulai dengan Upacara Satuan Pembukaan Latihan. Dimana didalamnya disampaikan amanat yang berisi bahwa hari ini akan dibahas materi tentang Sandi Morse.
15 menit
Kegiatan Inti
Peserta yang sudah dibagi dalam beberapa regu masuk ke kelas masing-masing. Kegiatan  dilaksanakan di kelas dan dibimbing oleh asisten pembina. Asisten pembina menjelaskan manfaat dan pentingnya sandi Morse, serta memberikan beberapa contoh kasus. Peserta dikenalkan dan diajari cara menerjemahkan sandi Morse.

SANDI MORSE


Peserta diajak bermain game komunikata yang berkaitan dengan penggunaan Sandi Morse.
50 menit
Penutup
Kegiatan penutup dilaksanakan di lapangan dengan upacara satuan
10 menit

D.   Alat dan sumber belajar
-          Alat upacara
-          Gambar sandi morse
E.    Penilaian
-          Penugasan


Bojonegoro, 10 Agustus 2014
Pembina


     Rico Ady S.



Tuesday, 10 November 2015

Donor Darah, siapa takut??

Aku ingin berbagi sedikit pengalaman terutama bagi kalian yang belum pernah donor darah. Bagi yang takut untuk donor darah, mungkin ceritaku ini bisa membuat kalian semakin takut,hehehe....

Sore itu, sepulang kerja sekitar dua minggu lalu, aku mendatangi kantor PMI kota Sidoarjo di Jalan Pahlawan untuk mendonorkan darah. Setiba disana, ternyata kantor udah tutup dan oleh petugas disarankan pergi ke depan Stadion GOR Delta karena disana ada mobil PMI khusus untuk donor darah. Sesampai disana aku langsung daftar dan cek kadar hemoglobin untuk memastikan kelayakan darah pendonor. Sempet was-was juga, soalnya seminggu sebelumnya aku sudah ditolak donor gara-gara kadar hemoglobin yang rendah dan disarankan banyak makan sayur (hmmm....lumayan kecewa juga sih soalnya baru sekali aku itu ditolak donor).
Alhamdulillah... setelah di tes, ternyata aku dinyatakan layak untuk donor. Setelah aku masuk ke ruangan mobil yang lumayan dingin, kok rasanya deg-degan juga. Memang sih, sudah hampir 6 bulan sejak aku terakhir donor. Padahal aku sebelumnya sudah 7 kali donor darah (2 kali hampir pingsan dan sekali pingsan beneran,hahaha...). Walaupun gitu, aku gak kapok buat donor lagi. Selain memang karena aku niatkan menolong sesama, donor darah itu bagiku sudah menjadi gaya hidup. Sebenarnya donor darah itu juga aku jadikan sebagai “terapi”. Soalnya aku agak sedikit shock kalau lihat darah.
Oke, let’s back to my story... Setelah masuk mobil aku diminta langsung berbaring dan menjulurkan tangan kiri oleh petugas. Bukannya tambah rileks, tapi rasanya kok tambah grogi dan nervous banget. Apalagi ngeliat si petugas ngeluarin suntik donor yang lumayan gede. Buat nenganin pikiran, aku pun berdoa, moga-moga lancar dan gak ada masalah. Tapi memang raut wajah gak bisa diboongi. Habis disuntik dan disedot darahku, si petugas tanya, “mas baik-baik aja kan, kok wajahnya pucat?”
Aku berusaha santai sambil senyum dan bilang, “ndak apa-apa kok mbak” (tapi badanku mulai terasa dingin dan gelisah, tangan kiriku pun terasa mati rasa).
Petugasnya tanya lagi, “pengen muntah ya mas?”
Aku jawab, “ndak kok mbak, cuma rasanya agak terasa dingin dan tangan kayak mati rasa”.
Petugasnya bilang, “oh ya sudah mas, kalau pusing atau mau muntah bilang aja.”
Setelah beberapa menit, aku ngerasa semakin lemas. Sepertinya petugasnya tau kalau aku semakin pucat, belum sampek ¾ kantong darahku (sekitar 250 ml) terisi, transfusi dihentikan sementara. Setelah agak baikan baru dilanjutkan lagi. Setelah kantong terisi penuh, selang transfusi dipotong dan jarum dicabut dari lenganku. Bukannya merasa baikan, tetapi apa yang aku rasain kepala malah semakin pusing, pandangan menjadi gelap dan badan terasa lemas sekali.
Petugas yang tau aku udah mulai teler, siap-siap menyediakan kantung plastik jika sewaktu-waktu aku muntah. Petugas lainnya membuatkan teh hangat, supaya aku tidak dehidrasi. Hampir 15 menit aku berbaring lemas tak berdaya, teh hangat sudah habis kuminum, tapi masih saja badan terasa berat.
Akhirnya setelah setengah jam berbaring, aku mulai kuat untuk menggerakkan badanku. Beberapa saat kemudian aku udah bisa duduk dan berdiri. Petugas donor menanyakan kepadaku, apa sebelumnya aku ada kegiatan berat. Ya emang gak salah juga sih, soalnya minggu sebelumnya aku nganter anak-anak sekolah outbound di kaki gunung. Beberapa hari sebelumnya juga olahraga bersepeda lumayan jauh. Selain itu juga kurang istirahat dan kurang makan makanan yang mengandung zat besi. Trus aku dapat saran, kalau mau donor, pastikan dulu bahwa kita tidak kecapekan. Karena hal tersebut akan menyebabkan risiko badan lemah pasca donor kayak yang aku alami. Badanku baru bener-bener pulih 3 hari setelah donor.
 Itu dia cerita fakta dari pengalaman donor darahku guys. Meskipun aku sering loyo habis donor, aku gak merasa kapok kok,hehehe.... Bagi kalian yang ingin donor darah, saranku cukup jaga kesehatan aja, makan makanan bergizi, istirahat yang cukup dan olahraga yang teratur. Semoga kalian yang belum pernah donor darah tergerak hatinya, karena selain itu merupakan hal yang mulia, kita juga tidak akan tahu bahwa suatu saat juga butuh pertolongan dari orang lain....
Tapi bagi kalian yang masih takut donor, kiranya cukup memberikan sedikit rezeki yang ada karena mumpung ini ada program Bulan Dana PMI, maka bantuan kalian dapat disalurkan lewat program ini. Program dana ini bukan hanya diperuntukkan bagi donor darah aja guys, tapi juga kegiatan kemanusiaan lain, seperti bantuan Dapur umum saat bencana, pelayanan kesehatan, ambulans. Selain itu, PMI juga memberikan pelayanan dukungan psikososial, pemulihan hubungan keluarga, pembinaan generasi muda dan relawan, pengolahan air bersih dan lain sebagainya. Kalian dapat berdonasi ke palang merah dengan no rekening sebagai berikut: Untuk bantuan dapat ditransfer melalui bank-bank sebagai berikut :
  • Bank BCA Kantor Cabang Utama Thamrin Nomo Rekening : 206-38-1794-5 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
  • Bank MANDIRI Kantor Cabang Kramat Raya Nomor Rekening : 123-00-17091945 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
  • Bank DKI Kantor Cabang Utama Juanda Nomor Rekening : 101-03-17094-7 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

Semangat Donor Darah!!!!! Ayo peduli bantu sesama....

Wednesday, 30 September 2015

Mari, Lestarikan Gotong Royong sebagai trademark budaya Bojonegoro!


Perkembangan zaman yang semakin pesat, ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi yang memudahkan seseorang dalam melakukan aktivitasnya tanpa bantuan orang lain. Teknologi komunikasi yang semakin hari semakin canggih, dengan gadget dan alat elektronik sophisticated lainnya membuat manusia dapat berkomunikasi dengan berbagai cara. Saat ini komunikasi tanpa harus face to face (bertatap muka secara langsung) bukanlah hal mustahil untuk dilakukan. Media-media social networking seperti facebook, twitter, BBM, whatsapp dan lain sebagainya perlahan tapi pasti mulai mengubah gaya hidup manusia dalam berinteraksi.
Nyadran (Manganan) di desa Sumberarum, Bojonegoro
Bahkan kegiatan rapat atau musyawarah yang biasanya dilakukan dalam rangka menentukan pilihan atau kebijakan sekarang telah banyak tergantikan fungsinya dengan terbentuknya grup-grup lewat media sosial di facebook, BBM atau whatsapp. Salah satu hal yang paling terkena dampaknya saat ini adalah semangat gotong royong dalam masyarakat Indonesia.
Gotong royong adalah suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama secara sukarela untuk mendapatkan manfaat bersama. Sikap gotong royong lebih mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan individu. Di kota kecil Bojonegoro, kegiatan gotong royong adalah hal lumrah yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk meringankan beban pekerjaan bersama-sama. Kegiatan kerja bakti lingkungan desa, perbaikan jalan, pembuatan gapura, pembangunan tempat ibadah, serta kegiatan-kegiatan lainnya.
Gotong royong warga dalam acara Sedekah Bumi di desa Wajik, Bojonegoro

Namun, perkembangan zaman yang semakin maju, dengan teknologi yang semakin canggih, membuat masyarakat terutama pemuda-pemuda usia produktif, baik yang bermukim di kota maupun di desa sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hal ini membuat mereka mulai kehilangan rasa kepedulian sosial terhadap masyarakat dan lingkungannya. Mereka merasa cukup bahwa berinteraksi hanya menggunakan gadget. Sikap gotong royong yang dulunya menjadi ciri khas masyarakat di Bojonegoro, terutama para pemuda, sekarang mulai ditinggalkan. Mereka lebih senang mengerjakan pekerjaan mereka sendiri (do individually) dibandingkan bekerja bersama-sama (do together). Sikap individualistis ini berbanding lurus dengan hilangnya rasa kepedulian dan kebersamaan mereka dalam masyarakat. Padahal, jika kita cermati, tentu sebuah pekerjaan akan menjadi ringan jika dikerjakan bersama-sama. Ini persis dengan sebuah ungkapan, “sepotong lidi akan mudah patah dibandingan seratus potong lidi yang diikat”.
Saat sekarang ini sangat jarang kita melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh suatu masyarakat dalam lingkungan. Event-event kegiatan hari besar nasional seperti HUT RI, Hari Pahlawan, ataupun hari-hari besar keagamaan yang biasanya dirayakan bersama-sama untuk mempersatukan masyarakat saat ini juga tidak terlalu banyak diminati. Bahkan adat masyarakat desa seperti mangangan, sedekah bumi, kirab desa, dan budaya lainnya sudah mulai ditinggalkan.
   Tokoh masyarakat yang biasanya aktif mengajak warganya untuk bergerak, sekarang ini merasa kesulitan membuat warganya bergotong royong. Bahkan sekedar berkumpul untuk bermusyawarah pun sangat sulit. Hanya segelintir masyarakat yang umumnya sadar akan manfaat gotong royong tergerak hatinya untuk ikut andil bagian. Padahal seandainya gotong royong ini kembali digalakkan, sikap kebersamaan untuk saling peduli, saling membantu, bertoleransi dan menghargai sesama warga masyarakat akan semakin terbina.
Gotong royong warga desa Ngadiluhur, Balen, dengan anggota koramil setempat
Sudah saatnya semangat gotong royong ini kembali digaungkan di tengah-tengah masyarakat, baik di desa maupun di kota. Bojonegoro merupakan daerah yang luas, dengan jumlah penduduk besar yang tersebar baik di perkotaan dan di pedesaan, semangat gotong royong akan menjadikan masyarakatnya semakin kokoh.
Oleh karena itu, melalui artikel ini, saya mengajak warga khususnya para pemuda Bojonegoro agar melestarikan semangat bergotong royong dalam lingkungan masyarakat. Jangan mudah tergerus dengan perkembangan zaman dan globalisasi. Salam Bojonegoro Matoh!

Rico Ady Sya’bana
Pemuda Bojonegoro
Guru Bahasa Inggris SMP Insan Cendekia Mandiri Sidoarjo

Saturday, 4 July 2015

Negara dengan Kualitas Pendidikan Terbaik

Indeks The Learning Curve yang dikeluarkan oleh firma pendidikan Pearson menunjukkan Korea Selatan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Sementara Indonesia berkebalikan 180 derajat, ada di posisi terakhir dari 39 negara dan satu wilayah (Hong Kong) yang dinilai Pearson. 
Data The Learning Curve, seperti dirilis Pearson, Jumat (16/5/2014) menunjukkan profil input dan output pendidikan serta indikator sosioekonomi di Korea Selatan. Dari segi input pendidikan, terlihat bahwa Korea mengalokasikan 15,77 persen dari APBN mereka untuk dana pendidikan. Sementara jika dihitung per produk domestik bruto (PDB), Korsel menghabiskan 22,12 persen dari PDB mereka untuk membiayai pendidikan para siswanya. Di level pendidikan tinggi, alokasinya adalah 13,16 persen per PDB. 
Pada aspek harapan masa studi, Korsel mematok 16,97 tahun. Artinya, pemerintah Korsel memasang target anak-anak usia sekolah di negaranya menempuh studi hingga perguruan tinggi.  Rasio guru dan murid di Korsel adalah 1:19,05 pada jenjang pendidikan dasar. Serta gaji guru di Korsel pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah 1,93 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata gaji nasional. 
Sementara itu, dari indikator keluaran pendidikan, dalam pemeringkatanPISA, Korsel meraih skor 542,45. Ini adalah pemeringkatan yang mengukur tingkat literasi membaca, matematika dan sains pelajar dunia. Sedangkan pada pemeringkatan TIMS yang mengukur kemampuan matematika dan sains, Korsel mengantongi nilai 595,80.  
Pada 2011, tingkat lulusan SMA di Korsel mencapai 92,91 persen. Data Kantor Statistik Nasional Korsel menunjukkan, pada 2009 tingkat lulusan perguruan tinggi di Korsel adalah 63 persen. Bicara tentang produktivitas, angkatan kerja Korsel mencatatkan pendapatan hingga USD56,72 juta. Angka pengangguran di Korsel pun cenderung rendah, yakni hanya 0,55 persen di antara para lulusan perguruan tinggi. 
Bagaimana dengan indikator sosioekonomi? Data UNDP 2012 menunjukkan, indeks pembangunan manusia (IPM) Korsel adalah 0,91. Tingkat kejahatan juga cenderung minim, misalnya terlihat dari hanya ada 2,69 kasus pembunuhan per 100 ribu orang. Setiap tahun, penduduk Korsel meraih PDB per kapita sebesar USD30,81 juta. Jika dihitung, pertumbuhan GDP per kapita ini adalah 1,60 persen per tahun. 

Sekira 35 persen dari populasi Korsel adalah angkatan kerja. Dan hanya 3,23 persen pengangguran yang tercatat di negara tersebut. (rfa)

http://kampus.okezone.com/read/2014/05/15/373/985390/intip-profil-negara-berpendidikan-terbaik-di-dunia