Thursday, 4 June 2015

Aturan Debat Bahasa Inggris

Australian Parliamentary/Australasian Parliamentary ("Australs").



Gaya debat ini digunakan di Australia, namun pengaruhnya menyebar hingga ke kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Asia, sehingga akhirnya disebut sebagai format Australasian Parliamentary. Dalam format ini, dua tim beranggotakan masing-masing tiga orang berhadapan dalam satu debat, satu tim mewakili Pemerintah (Government) dan satu tim mewakili Oposisi (Opposition), dengan urutan sebagai berikut:

1. Pembicara pertama pihak Pemerintah - 7 menit
2. Pembicara pertama pihak Oposisi - 7 menit
3. Pembicara kedua pihak Pemerintah - 7 menit
4. Pembicara kedua pihak Oposisi - 7 menit
5. Pembicara ketiga pihak Pemerintah - 7 menit
6. Pembicara ketiga pihak Oposisi - 7 menit
7. Pidato penutup pihak Oposisi - 5 menit
8. Pidato penutup pihak Pemerintah - 5 menit

Pidato penutup (Reply speech) menjadi ciri dari format ini. Pidato penutup dibawakan oleh pembicara pertama atau kedua dari masing-masing tim (tidak boleh pembicara ketiga). Pidato penutup dimulai oleh Oposisi terlebih dahulu, baru Pemerintah.
Debat Bahasa Inggris SMA

Mosi dalam format ini diberikan dalam bentuk pernyataan yang harus didukung oleh pihak Pemerintah dan ditentang oleh Pihak Oposisi, contoh:
(This House believes) That globalization marginalizes the poor.
(Sidang Dewan percaya) Bahwa globalisasi meminggirkan masyarakat miskin.

Mosi tersebut dapat didefinisikan oleh pihak Pemerintah dalam batasan-batasan tertentu dengan tujuan untuk memperjelas debat yang akan dilakukan. Ada aturan-aturan yang cukup jelas dalam hal apa yang boleh dilakukan sebagai bagian dari definisi dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tidak ada interupsi dalam format ini.

Juri (adjudicator) dalam format Australs terdiri atas satu orang atau satu panel berjumlah ganjil. Dalam panel, setiap juri memberikan voting-nya tanpa melalui musyawarah. Dengan demikian, keputusan panel dapat bersifat unanimous ataupun split decision.


Di Indonesia, format ini termasuk yang pertama kali dikenal sehingga cukup populer terutama di kalangan universitas. Kompetisi debat di Indonesia yang menggunakan format ini adalah Java Overland Varsities English Debate (JOVED) dan Indonesian Varsity English Debate (IVED).
Asian Parliamentary ("Asians").

Wednesday, 7 May 2014

Tri Rismaharini Biography

             Ir. Tri Rismaharini, M.T. was born in Kediri, East Java on 20 November 1961. She is the first mayor woman of Surabaya along the history of the city. Risma, post graduate from Institute Technology 10 November of Surabaya, is also well known as the first woman in Indonesia who was elected directly as the mayor along the democration history of Indonesia after reformation era in 1998. Through the direct election, she replaced Bambang Dwi Hartono who overseen as became her vice until he resigned officially on June 14, 2013. They were supported by Indonesia Democracy of Struggle Party (PDI-P) and were elected by 38.53 percent voters.
             Before elected as the mayor of Surabaya, Risma had ever overseen as the head of DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Surabaya. Risma was a pure bureaucrat who started her carrier as a state worker of Surabaya city since 1990s. Risma graduated from her elementary school in Kediri in 1973. She continued her education in SMPN 10 Surabaya and finished in 1976. Then, she followed SMAN 5 Surabaya and graduated in 1980. He was admitted in bachelor degree majoring in Architecture of Institute Technologi 10 November of Surabaya and graduated in 1987. After that she took the master program of City Development Management at the same university and finished in 2002. Risma has two children, named Fuad Bernardi and Tantri Gunarni Saptoadji, from her husband Ir. Saptoadji.
           
Tri Rismaharini
Her family supported all her work and carrier until she got some achievements. She was nominated as one of the best mayor in the world, 2012 World Mayor Prize, held by The City Mayor Foundation. She was appraised because of her successful in effort to make Surabaya becoming green and clean city. She built and renovated many parks and gardens. One of them is Bungkul Park which is the largest and most famous in Surabaya. Under her leadership, Surabaya also got Adipura Award from Indonesian government in 2010.

Tuesday, 1 October 2013

Keindahan Pulau Kisar: The Jerussalem of Indonesia

Oirata Timur, 4 Agustus 2013


                Angin bertiup kencang di siang hari ketika aku mengetik tulisan ini di bawah pohon lemon  (jeruk) yang rindang di Pulau Kisar. Kebetulan saat ini aku sedang berlibur di pulau ini dan menginap di kediaman Bapak Beny Kamanasa, Kepala SMAN 1 Mdona Hyera di desa Oirata Timur. Kisar adalah pulau kecil yang terletak di kepulauan Maluku paling selatan dan berbatasan laut dengan negara Timor Leste. Dari pulau ini, kita dapat melihat kota Los Palos di Timor Leste dengan jelas karena jaraknya yang sangat dekat. Dengan perahu motor yang ditempuh waktu tiga jam saja sudah sampai di Pulau Timor.
                Pulau Kisar berbentuk seperti mangkuk, pantainya berbukit karang dan di tengahnya ada cekungan besar. Dari luar pulau ini terlihat tanpa penghuni karena tidak ada pemukiman penduduk. Beribukota di Wonrelli, pulau ini merupakan wilayah kecamatan P.P. Terselatan dan bagian dari kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Tahun lalu Wonrelli menjadi ibukota sementara Kabupaten Maluku Barat Daya  sebelum pindah ke Tiakur di Pulau Moa. Kisar merupakan pulau berpenduduk terpadat di MBD. Pulau ini memiliki fasilitas yang paling lengkap dibanding dengan pulau-pulau lain di MBD. Disini sudah ada dermaga, bandara, jalan aspal, pasar tradisional, bank, dan beberapa toko besar. Listrik tenaga diesel dan solar cell untuk keseluruhan pulau sudah menyala hampir seharian, hanya dua jam dimatikan tiap sore untuk mengganti mesin.
                Pulau Kisar terkenal dengan lemon manis (buah jeruk mirip sunkist yang rasanya sangatlah manis). Hampir di semua tempat di pulau ini tumbuh pohon lemon yang pada musimnya berbuah, dapat mencapai ratusan hingga ribuan buah di setiap pohonnya. Setiap warga Kisar, khususnya di desa Oirata, memiliki kebun sendiri di samping rumah mereka. Biasanya kebun-kebun itu ditanami jagung dan di sela-selanya ada pohon lemonnya. Setiap tahun lemon-lemon itu berbuah dan siap dipanen ketika memasuki bulan Agustus-September. Kota Kupang di Provinsi NTT menjadi daerah pasaran utama penjualan lemon ini. Hampir setiap kapal yang masuk ke Kisar menuju Kupang selalu dipenuhi ratusan karung lemon untuk dijual setiap musim buah. Kupang adalah kota yang cuaca panas sehingga cocok untuk orang makan buah lemon yang manis dan segar.
Di pulau Kisar ini ada beberapa desa dan dusun. Hampir semua desa terletak di bagian tengah pulau. Salah satunya adalah Desa Oirata Timur, tempatku tinggal selama libur sekolah ini. Desa ini terletak di perbukitan bagian selatan dan berbatasan dengan desa Oirata Barat. Dulu Oirata Timur dan Barat menjadi satu sebelum akhirnya terpisah. Penduduk Oirata dikenal juga sebagai suku atau orang Oirata.
Tetua adat sedang memberi nasihat kepada pngantin


Oirata adalah desa yang khas karena merupakan desa yang memiliki budaya dan bahasa tersendiri dibandingkan dengan desa-desa lain di Kisar dan MBD pada umumnya. Budaya dan adat suku / orang Oirata masih sangat kental karena masih dijaga kelestariannya hingga sekarang. Salah satu contohnya adalah adat penikahan. Beruntung ketika sampai disini, aku mendapatkan kesempatan untuk melihat adat pernikahan setempat. Penduduk disini tidak sembarangan dalam menikah. Kedua pasangan yang ingin menikah harus memenuhi persyaratan adat yang telah diatur. Di Oirata, setiap warga tergabung dalam satu marga / fahm. Gabungan dari beberapa marga disebut sebagai mata rumah dan beberapa mata rumah disebut soa. Setiap marga dan mata rumah telah dibagi kedalam tiga strata / tingkatan. Yaitu tingkat atas (marna), tengah dan bawah. Setiap orang yang akan menikah telah ditentukan tingkat marganya masing-masing. Misalnya seseorang yang merupakan bagian dari marga dan mata rumah tingkat marna seharusnya menikah dengan warga lain yang marganya tingkat marna juga. Jika mereka melanggar aturan tersebut, maka akan mendapat risiko yang harus diterima, yaitu anak cucunya kelak tidak akan mendapat harta warisan dari orang tuanya.

Kambing-kambing yang digembalakan di pantai Kiasar
Keindahan panorama pulau Kisar juga tidak kalah dengan keindahan budayanya. Di pulau ini terdapat wisata pantai yang sangat indah. Pantai Kiasar yang terletak di selatan pulau memiliki keindahan yang luar biasa. Bukit-bukit teletubbies membentang di tepi pantai yang dikelilingi batu karang. Di tengah bukit itu terdapat sebuah salib besar yang berdiri tegak. Selain pantai Kiasar, terdapat juga tempat wisata lain seperti pantai Nama, pantai Jawalang dan juga bukit doa yang terletak di desa Oirata. Dinamakan bukit doa karena biasanya dipakai masyarakat setempat untuk berdoa dan beribadah. Orang maluku menyebut pulau Kisar ini memiliki kemiripan dengan kota Jerusalem di Israel karena keindahannya yang menakjubkan.

Saturday, 28 September 2013

Ronda-Ronda di Pulau Sermata: Jalan-jalan ke desa Mahaleta dan Elo


Elo, 17 Februari 2013
Kecamatan Mdona Hyera merupakan sebuah kecamatan yang baru saja dimekarkan di Kab. Maluku Barat Daya. Kecamatan ini terdiri dari beberapa desa yang rata-rata jumlah penduduknya antara 200-600an jiwa. Desa Lelang tempatku bertugas sekaligus sebagai ibukota Kecamatan Mdona Hyera, kemudian desa Mahaleta, Romdara, Elo, Rumkisar, Batugaja, Regoha, Pupliora, Rotnama di Pulau Sermata serta Luang Barat dan Luang Timur yang terpisah di pulau tersendiri di Pulau Luang. Hampir semua desa di kecamatan ini berada di sepanjang pantai. Hal ini dikarenakan kontur geografis pulau yang pada bagian tengahnya merupakan daerah perbukitan yang curam dan tidak rata sehingga sukar untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman.
        Sabtu siang, 16 Februari 2013, aku bersama M. Eko Tirto, temanku SM-3T yang sama-sama mendapat tugas di desa Lelang berencana mengadakan ronda-ronda ke desa Mahaleta dan Elo. Ronda-ronda itu istilah yang biasa dipakai orang Maluku berarti jalan-jalan atau berpelesir. Mahaleta dan Elo adalah desa yang terletak di bagian utara Pulau Sermata. Kami ronda-ronda ke dua desa tersebut bukan hanya untuk berpergian tanpa alasan. Sebenarnya tujuan kami adalah untuk mengantarkan pelampung kiriman dari panitia SM-3T di Jawa untuk diserahkan kepada seluruh peserta SM-3T yang ada di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) khususnya di kecamatan Mdona Hyera ini. Ada 3 buah pelampung yang merupakan jatah untuk ketiga teman kami yang ada di desa Elo masih kami titipkan di Mahaleta yang kebetulan ada juga 2 teman kami yang disana. Sedangkan pelampung-pelampung yang lain sudah diterima oleh semua peserta yang ada di desa-desa lain.
         Dari desa Lelang, aku dan Eko yang juga merupakan koordinator SM-3T se-kecamatan Mdona Hyera berangkat naik sepeda motor ke desa Mahaleta pada siang hari. Jalan yang kami lalui adalah sebuah jalan yang baru saja dibangun akhir tahun lalu dan masih dalam kondisi sirtu. Walaupun masih baru tetapi kondisi tanah yang labil karena merupakan perbukitan menyebabkan jalan ini mengalami sedikit longsor di beberapa bagian. Jalan ini pun sangat licin karena guyuran hujan sehingga kami harus sangat berhati-hati melaluinya. Di tengah perjalanan, dari atas bukit terlihat pemandangan laut utara desa Mahaleta yang indah mempesona.
            Tidak sampai setengah jam, kami telah tiba di tempat tinggal kedua teman kami, Nanda Okkyanti dan M. Junaidi di desa Mahaleta. Selain mengambil pelampung, kami juga mengajak kedua teman kami tersebut ikut ke desa Elo. Karena waktu yang semakin sore, terlihat jam di hapeku telah menunjukkan pukul 4 sore WIT, akhirnya kami berempat, aku, Eko, Nanda dan Mas Jun berangkat berjalan kaki bersama-sama menuju ke desa Elo yang berjarak sekitar 9 km dari Mahaleta. Meski dalam guyuran hujan gerimis, kami tetap berangkat karena khawatir akan kemalaman di jalan.
Jalan yang kami lalui menuju ke desa Elo sungguh mengasyikan. Jalan yang kami lewati berupa jalan setapak. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang laki-laki bersama istri dan anaknya sedang menaiki kuda mereka untuk menuju ke kebun. Terlihat bekas kaki kuda yang tercetak diatas jalan yang sedikit berlumpur itu. Setelah melewati jalan setapak yang berupa rumput-rumput yang tinggi dan kebun-kebun jagung disampingnya, kami mendapati jalan di tepi pantai berpasir putih yang sangat panjang.


Disela-sela pantai yang dinamakan pantai Pasir Panjang tersebut ada batu-batu karang terjal karena hempasan ombak. Suatu perjalanan yang belum pernah aku alami selama hidup, berjalan kaki diatas pasir pantai berkilo-kilometer sambil melihat pemandangan ombak putih di laut biru yang luas dan perbukitan nan hijau disisi yang lain pula. Bahkan tampak pula seekor burung pemakan ikan berleher panjang sedang berjalan santai diatas pasir putih yang belum pernah aku lihat secara langsung sebelumnya. Sekitar pukul 7 malam akhirnya sampai juga kami di desa Elo dan bertemu dengan teman-teman SM-3T yang bertugas disana. That’s an amazing adventure..........